• KARYA ILMIAH MEMBENTUK KEPRIBADIAN MANDIRI PETERNAK DALAM ...

Sponsored Links

  •   
  • FileName: membentuk_kepribadian_mandiri_peternak.pdf [preview-online]
    • Abstract: Sementara menurut Phares (1991) dalam Heinstrom (2003), kepribadian ... Unsur-unsur Kepribadian. Ciri kepribadian seseorang ditunjukkan oleh adanya konsep diri ...

Download the ebook

KARYA ILMIAH
MEMBENTUK KEPRIBADIAN MANDIRI PETERNAK
DALAM UPAYA MENCAPAI KEBERHASILAN
USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH MELALUI KOPERASI
Oleh :
Lilis Nurlina
NIP : 131.997.858
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
DESEMBER 2004
KATA PENGANTAR
Karya Ilmiah ini merupakan inspirasi yang timbul dalam diri saya setelah
menyelesaikan Tugas Kuliah Perilaku Organisasi Lanjutan pada Program S3 Ekonomi
Universitas Padjadjaran. Tulisan ini diharapkan mampu memberikan informasi dan
masukan bagi Dinas Instansi terkait termasuk Fakultas Peternakan melalui para insan
akademisi baik para pengajar maupun mahasiswanya. Dalam kesempatan ini, penulis
ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Dekan dan Pembantu Dekan I Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran yang
telah memberi kesempatan untuk mengikuti program S3 di Unpad.
2. Dr. Munandar Sulaeman selaku Kepala Laboratorium Sosiologi Penyuluhan yang
telah memberikan izin belajar dan memberikan bimbingan, arahan dan men-
dewasakan pola berpikir penulis.
3. Teman-teman di Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Peternakan yang senantiasa
memberikan motivasi dan dorongan untuk tetap maju bersama.
Penulis telah berupaya dengan baik menyusun karya ilmiah ini, namun tentu
saja masih banyak kekurangannya. Semoga t lisan ini bermanfaat bagi penulis
u
khususnya dan pihak-pihak yang membutuhkan informasi ini pada umumnya.
Sumedang, Desember 2004
Penulis
I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Usaha ternak sapi perah rakyat sampai saat ini masih eksis tetapi skala
usahanya berkisar antara 2-5 ekor per peternak. Peternakan sapi perah small holder
dapat ditingkatkan kalau skala tersebut dapat mencapai tingkat efisiensi yang optimal
dengan memperhatikan berbagai kendala yang ada dan skala usaha hendaknya tetap
dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi untuk skala keluarga, yaitu antara 6-10
ekor per peternak. Apabila dilihat dalam suatu wilayah Kawasan Industri Peternakan
(Kinak), usaha sapi perah rakyat merupakan “perusahaan” besar yang dapat
memberikan sumbangan cukup berarti dalam pembangunan. Pengkajian terhadap
sapi perah rakyat dalam suatu wilayah sangat penting terutama tentang kualitas
sumber daya manusia khususnya pada masyarakat peternak yang erat kaitannya dalam
pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak suatu introduksi teknologi.
Produktivitas sapi perah di Indonesia masih rendah yaitu 10-12 liter/ekor/hari,
yang apabila dibandingkan dengan produktivitas sapi perah di negara maju yaitu
sekitar 25-30 liter/ekor/hari, maka jelaslah bahwa ternak sapi perah di Indonesia masih
jauh tertinggal. Dengan demikian produksi susu segar dalam negeri relatif masih
rendah dan belum mampu untuk mencukupi permintaan dalam negeri. Hampir dua
per tiga dari kebutuhan konsumsi susu masyarakat masih harus diimpor (Ditjen Bina
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2004).
Selanjutnya dinyatakan bahwa produksi Susu Sapi Dalam Negeri (SSDN) pada
lima tahun terakhir (1998-2002) mengalami peningkatan sebesar 24 % dari 375.382
ton (1998) menjadi 493.375 ton (2002). Propinsi Jawa Timur dan Jawa Barat
merupakan propinsi terbesar penghasil susu.
Pada sisi permintaan, tingkat konsumsi susu masyarakat di Indonesia baru
mencapai 5,79 kg/kap/tahun (2001). Tingkat pencapaian ini masih jauh dari standar
gizi yang ditentukan yakni 7,2 kg/kap/tahun. Berdasarkan sisi pemasaran, sebagian
besar hasil produksi dalam negeri (90%) dipasarkan ke Industri Pengolahan Susu (IPS)
dan sisanya diolah oleh Kopera atau dikonsumsi langsung. Untuk mensuplai
si
kebutuhan susu nasional sekitar 1.167.561 ton/tahun, sekitar 59 % atau 687.914
ton/tahun masih diimpor dari luar negeri dalam bentuk bahan baku maupun bahan jadi
seperti susu, mentega, yogurt, whey dan keju, namun ekspor uga dilakukan ke
j
beberapa negara.
Perkembangan usaha ternak di suatu daerah dipengaruhi oleh faktor internal
peternak dan faktor lingkungan. Sudono dan Sutardi (1980) berpendapat bahwa
kemampuan produksi sapi sekitar 30 % ditentukan oleh faktor genetik dan 70 % oleh
faktor lingkungan (iklim, ransum, sosial ekonomi dan manajemen). Produktivitas
usaha ternak rakyat yang masih rendah disebabkan karena manajemen usaha ternak
dan kualitas pakannya sangat tidak memadai. Untuk memperbaikinya, tidak hanya
sebatas mengubah sikap peternak tetapi juga menyediakan stok bibit yang baik dan
bahan pakan yang berkualitas. Namun demikian, sebenarnya bibit sapi perah unggul
tidak kurang, karena kualitas genetik sapi perah dapat diperbaiki dengan inseminasi
buatan yakni dengan menggunakan semen unggul, namun masalahnya koperasi, Dinas
Peternakan ataupun GKSI hanya mempertimbangkan harga yang murah, padahal
harga yang ditawarkan BIB Singosari Rp 6.000,00/ dosis dengan kualitas bagus dan
bersertifikat dengan standar untuk Asia Pasifik. Produksi semen sapi perah di BIB
tersebut mencapai 600.000 dosis per tahun, tapi yang terjual baru 15-20 %.
Suatu peternakan dikatakan berhasil jika memenuhi tiga f
aktor yang saling
menunjang yaitu pemuliabiakan (“breeding”), ransum (‘feeding”) dan pengelolaan
(“manajement”). Ketiga aspek tersebut mempunyai peranan yang sama sehingga
merupakan suatu gambaran segi tiga sama sisi. Jika ketiga faktor tersebut dijalankan
secara ekonomis dan efisien, maka akan menghasilkan output atau produk yang
maksimal (Suharno, 1994). Hal ini sejalan dengan Ditjen Peternakan (1991), bahwa
pelaksanaan Sapta Usaha Ternak (pemilihan bibit dan reproduk pakan ternak,
si,
tatalaksana pemeliharaan, perkandangan, kesehatan ternak, pa
sca panen dan
pemasaran) merupakan salah satu aspek untuk mengukur keberhasilan beternak sapi
perah. Keberhasilan beternak sapi perah itu sendiri secara nyata dapat diukur dari
adanya peningkatan produksi susu per ekor per hari dan kualitas susu yang tergolong
baik. Dengan tingkat produksi dan kualitas yang tinggi maka pendapatan pun akan
tinggi.
Ada beberapa hal yang sering menimbulkan hambatan bagi peningkatan usaha
ternak sapi perah di Indonesia yaitu iklim, permodalan, pemasaran yang yang belum
maju, kekurangan tenaga ahli, komunikasi atau sarana transfortasi yang sulit. Selain
itu, sikap peternak sapi perah yang kurang mandiri terutama dalam merebut
kesempatan usaha yang ada menjadi kendala pencapaian skala pemilikan optimum.
Dengan demikian kemandirian peternak sapi perah merupakan cerminan dari kesiapan
mereka dalam persaingan usaha yang sangat kompetitif baik secara fisik, mental
maupun strategi untuk dapat mempertahankan mata pencaharian mereka.
1.2. Identifikasi Masalah
1. Bagaimana sikap mental (kepribadian) peternak sapi perah yang terkait dengan
manajemen usaha ternaknya
2. Bagaimana upaya membentuk kepribadian mandiri peternak agar mendukung
keberhasilan usahanya.
1.3. Maksud dan Tujuan
Maksud dari paparan dalam tulisan ini adalah untuk menjelaskan tentang
pentingnya kepribadian mandiri pada peternak sapi perah melalui koperasi. Adapun
tujuan dari paparan karya ilmiah ini agar pihak-pihak yang terkait dengan upaya
pemberdayaan peternak, mampu mempengaruhi, mengarahkan, bahkan membentuk
kepribadian peternak, karena kepribadian bersifat psikodinamis, artinya dapat diubah
melalui proses belajar.
II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Definisi Kepribadian
Kepribadian (personality) didefinisikan sebagai gabungan dari ciri fisik, dan
mental yang stabil yang memberi identitas pada individu. Ciri ini termasuk bagaimana
penampilan, pikiran, tindakan dan perasaan seseorang yang merupakan hasil dari
pengaruh genetik dan lingkungan yang saling berinteraksi (Kreitner and Kinichi,
1998). Sementara menurut Phares (1991) dalam Heinstrom (2003 kepribadian
),
merupakan pola dari ciri-ciri pemikiran, perasaan dan perilaku yang berbeda antara
satu orang dengan lainnya, dari waktu ke waktu dan dari situasi ke situasi lainnya.
Struktur kepribadian relatif stabil dan dapat diprediksi melalui perjalanan waktu dan
perbedaan situasi.
2.2. Unsur-unsur Kepribadian
Ciri kepribadian seseorang ditunjukkan oleh adanya konsep diri yang dimiliki
oleh setiap individu. Sosiol g Viktor Gekas mendefinisikan konsep diri (“self-
o
concept”) sebagai konsep yang dimiliki oleh individu atas dirinya sendiri sebagai
suatu makhluk fisik, sosial, dan spiritual atau moral. Dengan kata lain, seseorang yang
memiliki konsep diri, maka ia mengenali dirinya sendiri sebagai manusia yang
berbeda. Suatu konsep diri tidak mungkin ada tanpa kapasitas untuk berpikir. Hal ini
membawa kita pada peran kognisi yang meliputi setiap pengetahuan, pendapat, atau
keyakinan mengenai lingkungan, diri sendiri, atau perilaku orang lain.
Gagasan mengenai konsep diri berlainan dari waktu ke waktu, kelas s
osial
ekonomi tertentu, dan kebudayaan tertentu. Tiga topik lain yang berkaitan dengan
konsep diri adalah self-esteem, self-efficacy dan self-monitoring. Self-esteem adalah
suatu keyakinan nilai diri sendiri berdasarkan evaluasi diri, cara keseluruhan yang
diukur melalui pertanyaan tentang setuju atau tidak setuju tentang pernyataan positif
atau negatif. Orang dengan self-esteem yang tinggi memandang dirinya sebagai
seorang yang berharga, mampu dan dapat diterima. Sementara orang dengan self
esteem rendah memandang dirinya dengan rasa sangsi. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa orang dengan “
High Self-Esteem” (HSE), dapat mengatasi kegagalan
dibanding yang memiliki “Low Self-Esteem” (HSE). Self-esteem dalam organisasi
(OBSE) merupakan nilai yang dimiliki oleh individu atas dirinya sendiri sebagai
anggota organisasi yang bertindak dalam konteks organisasi. OBSE (Organization
Behaviour Self Esteem) penting dalam menacapai keberhasilan organisasi (koperasi)
dan kepuasan pegawai (karyawan koperasi termasuk juga anggota koperasi).
Self-efficacy didefinisikan sebagai keyakinan seseorang mengenai peluangnya
untuk berhasil mencapai tugas tertentu. Self-efficacy seseorang muncul secara
perlahan melalui pengalaman kemampuan kognitif, sosial, bahasa, dan atau fisik yang
rumit. Hubungan antara self-efficacy dengan prestasi merupakan suatu siklus, artinya
dapat berputar ke arah keberhasilan atau kegagalan tergantung pada kepercayaan diri
yang telah diperkaya oleh pengalaman.
Perbedaan lain diantara individu adalah self-monitoring atau pemantauan diri
yakni suatu perilaku yang mengamati ekspresifnya dan bagaimana seseorang dapat
menyesuaikan dengan situasi ya
ng dihadapinya. Mereka yang memiliki self-
monitoring yang tinggi memiliki kepekaan terhadap isyarat sosial dan isyarat antar
pribadi dari penampilan yang secara situasional sesuai. Namun adakalanya bersifat
“bunglon”, yang penting dalam konteks periaku organisasi, self-monitoring
l
merupakan suatu sumber keragaman yang perlu dipahami oleh para manajer atau
ketua kelompok dalam konteks kelompok peternak.
Identifikasi organisasi (koperasi) muncul pada saat seseorang sampai pada
tahap mengintegrasikan keyakinan mengenai identitas organisasi menjadi identitas
individu. Bagi para manajer koperasi perlu memfokuskan pada misi, filosofi dan
nilai-nilai organisasi dengan maksud agar dapat mengintegrasikan koperasi menjadi
identitas karyawan dan anggota koperasi, sehingga mereka lebih setia, terikat dan
bekerja keras.
Julian Rotter, seorang peneliti kepribadian, mengidentifikasi kepribadian
melalui suatu dimensi kepribadian yang disebut dengan “lokus pengendalian”. Orang
yang yakin bahwa dirinya menge dalikan peristiwa atau konsek
n uensi yang
mempengaruhinya dikatakan memiliki lokus pengendalian internal. Sebaliknya
individu yang memiliki lokus pengendalian eksternal akan cenderung mengaitkan
hasil yang diperoleh dengan lingkungan seperti keberuntungan atau nasib. Hasil
penelitian lokus pengendalian menemukan bahwa kelompok inter al memiliki
n
motivasi kerja dan prestasi yang lebih besar serta kepuasaan kerja yang lebih tinggi
dibanding kelompok eksternal.
Dimensi lain yang dapat menerangkan tentang kepribadian seseorang yaitu
sikap dan perilaku. Sikap dan perilaku, merupakan pola ekspresi diri dari suatu
kepribadian seseorang. Sikap didefinisikan sebagai kecenderungan merespon sesuatu
secara konsisten untuk mendukung atau tidak mendukung dengan memperhatikan
suatu objek tertentu (Gibson, dkk. 1994, Kreitner & Kinichi, 1998; Hawkins & Van
den Ban, 1998).
Ahli tentang perilaku, Martin Fishbain dan Icak Ajen, mengembangkan suatu
model tujuan dan perilaku. Menurutnya, keyakinan mengenai hubungan perilaku dan
bagaimana seseorang seharusnya bertindak mempengaruhi sikap dan norma
subyektif, tergantung pada relatif pentingnya, sikap dan norma yang secara bersamaan
mendorong perilaku. Hal ini merupakan penentu perkiraan yang paling baik dari
suatu perilaku yang nyata (Kreitner & Kinichi, 1998; Hawkins & Van den Ban, 1998).
Ekspresi diri yang lain dari suatu dimensi kepribadian adalah kemampuan dan
prestasi. Kemampuan menunjukkan ciri luas dan karakteristik tanggung jawab yang
stabil pada tingkat prestasi yang maksimal dan hal ini berbeda dengan kemampuan
fisik dan kerja mental. Keterampilan, di sisi lain merupakan kapasitas khusus untuk
memanipulasi objek secara fisik. Prestasi yang berhasil ditentukan oleh kombinasi
yang tepat dari usaha, kemampuan, dan keterampilan, yang sekarang lebih dikenal
dengan kompetensi.
Emosi juga merupakan ekspresi diri dari suatu kepribadian. Richard Lazarus
dalam Kreitner & Kinichi (1998), mendefinisikan emosi sebagai reaksi manusia yang
kompleks terhadap keberhasilan dan kegagalan personal yang mungkin dirasakan atau
diungkapkan. Definisi tersebut berpusat pula pada setiap tujuan. Dengan demikian
pemisahan emosi positif dan negatif juga berorientasi pada tujuan. Emosi positif
berarti searah dengan tujuan, terdiri dari rasa bahagia, senang, rasa bangga terhadap
suatu pekerjaan untuk mencapai tujuan tertentu. Sebaliknya emosi negatif berarti
tidak searah dengan tujuan yang terdiri dari rasa marah, rasa takut/ gelisah, rasa
bersalah terhadap pekerjaan yang dihadapi. Keadaan emosi seseorang (EQ) dapat
mengungguli daya nalarnya (IQ). Melalui metode pengendalian diri emosi negatif ini
dapat dikelola dengan baik.
2.3. Teori-teori Kepribadian
Beberapa teori kepribadian seperti teori Freud dan Jung, menjelaskan dinamika
kepribadian secara menyeluruh. Salah satu konsep dasar dari Freud adalah perbedaan
tingkat kesadaran. Kepribadian kita dipengaruhi oleh se ua tingkat tersebut
m
(Indrawijaya, 1989, Gibson dkk., 1994, dan Thoha, 2001). Menurut Freud dalam diri
setiap orang terdapat suatu “ id” atau naluri untuk mencari kepuasan dan superego
yang merupakan bagian dari jiwa manusia yang mengandung unsur ideal dan pikiran
yang baik. Tindakan atau perilaku manusia, menurut Freud merupakan hasil konplik
antara “id” dan “superego” yang selalu didamaikan oleh ego. Dengan demikian
perbedaan kepribadian, sikap dan emosi seseorang tergantung pada sejauh mana ego
di dalam dirinya dapat mendamaikan id (nafsu/kepuasaan), dengan superego (nilai
dan norma yang melekat pada dirinya).
Dalam konteks teori Jung (Tipologi Gaya Kognitif Jung), isti ah kognitif
l
diartikan sebagai beberapa proses mental yang berkaitan dengan bagaimana orang
merasakan dan membuat penilaian dari informasi. Katharine C. Briggs dan Isabel
Briggs Myers mengembangkan Myers-Briggs Tyipe Indicator (MBTI) sebuah alat
untuk mengukur gaya kognitif Jung, dan sekarang digunakan sebagai alat untuk
menumbuhkan dan mengembangkan pribadi secara luas. Dengan menggabungkan
dua dimensi persepsi (sensasi dan intuisi) dan dua dimensi peni aian (logika dan
l
perasaan). Carl Jung mengidentifikasi empat gaya kognitif yaitu : (1) sensasi/ pikiran
(SP); (2) Intuisi /pikiran (IP); (3) Sensasi/Perasaan (SR); dan (4) Intuisi Perasaan (IR).
Gaya SP menggunakan pemahaman untuk persepsi dan pemikiran rasional . Gaya IR
terfokus pada kemungkinan dari fakta dan menunjukkan kemampuan dalam bidang
yang melibatkan pengembamgan secara teori dan teknis. Gaya SR cenderung tertarik
pada pengumpulan fakta dan memperlakukan orang lain dengan hangat, simpatik, dan
ramah. Sementara gaya SR, menunjukkan bakat artistik yang berstanda pada
r
wawasan pribadi daripada kenyataan objektif (Kreitner and Kinichi, 1998).
Menurut teori sifat atau perangai dari Allport, kepribadian seseorang selalu
tetap atau sulit berubah bahkan tidak berubah. Oleh sebab itu mudah sekali untuk
memperkirakan perilaku seseorang karena merupakan ciri khas perilaku orang tersebut
(Indrawijaya, 1989). Menurut Gibson dkk. (1994), teori sifat mendapat kritikan
karena dianggap tidak merupaka teori nyata, dan teori ini idak menjelaskan
n t
bagaimana penentuan perilaku ini. Pengenalan ciri belaka, seperti keras hati,
konservatif, bijaksana, pendiam, atau ramah tamah, tidak memberikan pengertian
tentang perkembangan dan dinamika kepribadian.
Gibson dkk. (1994) menambahkan satu teori yang dpat memahami
a
kepribadian, yaitu teori Humanistik dari Carl Rogers yang berisi tentang pemahaman
kepribadian dicirikan oleh penekanannya atas perkembangan dan perwujudan dari
individu. Teori ini menekankan pentingnya cara orang berpersepsi terhadap dunia
mereka dan semua kekuatan yang mempengaruhinya. Rogers berkeyakinan bahwa
perangsang organisme manusia yang paling mendasar adalah perwujudan diri (self-
actualization), dan usaha keras yang konstan untuk mewujudkan potensi yang melekat
pada dirinya.
Dimensi kepribadian The Big Five merupakan kristalisasi dari d
imensi
kepribadian yang panjang dan membingungkan. Dimensi ini terdiri dari extraversion
(kawasan ekstra) atau kepribadian terbuka, mudah menyetujui, ketelitian, stabilitas
emosi, dan keterbukaan pada pengalaman, semua itu sebagai ciri pribadi positif.
Menurut Kreitner dan Kinichi (1998), secara idel dimensi kepribadian “The Big Five”
berkorelasi positif dan kuat dengan prestasi kerja seseorang. Dari hasil penelitian,
ketelitian memiliki korelasi positif yang paling kuat dengan prestasi kerja dan prestasi
dalam pelatihan (Heinstrom, 2003).
Lima dimensi kepribadian dapat digunakan untuk menggambarkan perbedaan
dalam kawasan kognitif, afektif, dan perilaku sosial (Heinstrom, 2003). Pada tabel 1
berikut ini dapat digambarkan ciri-ciri lima dimensi kepribadian pada level tinggi dan
level rendah.
Tabel 1. Dimensi Kepribadian & Sifat-Sifat yang Didasarkan pada Costa & Mc Crae
No. Dimensi Kepribadian Level Tinggi Level Rendah
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Neuroticisme sensitif, gugup aman, percaya diri
2. Pribadi terbuka terbuka, enerjik pemalu, menarik diri
3. Pengalaman tertarik pada hal baru hati-hati, konservatif
4. Sikap pada pihak lain ramah, suka pikirkan orang lain kompetitif, tidak ramah
5. Ketelitian efisien, terorganisir santai, ceroboh
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Neuroticism dapat mengukur pengaruh emosi dan mengontrol emosi. Level
rendah menunjukkan emosi yang stabil dan level tinggi menunjukkan emosi negatif
yang diperlihatkan oleh rasa cemas, temperamental dan sedih.
Ekstraversi dan intraversi yan berasal dari ekstrovert dan introvert
g
merupakan pribadi terbuka dan pribadi tertutup. Ektrovert secara fisik dan verbal
(berbicara) bersifat aktif dan terbuka sementara yang introvert suka menyendiri dan
pasif.
Keterbukaan pada pengalaman dapat mengukur kedalaman, keluasan,
variabilitas dari imajinasi seseorang dan pengalaman berharganya. Faktor-faktor yang
berhubungan dengan kecerdasan, keterbukaan pada ide-ide baru, ketertarikan pada
budaya, tingkat pendidikan, dan kreatifitas, memberikan pengaruh yang sama dengan
ketertarikan pada sesuatu dan pengalaman kognitifnya. Tingkat keterbukaan pada
pengalaman pada level rendah dicirikan oleh sifat konvensional dan koservatif, dan
lebih bersifat kekeluargaan (Howard & Howard, 1992).
Orang yang mudah menyetujui orang lain dapat digambarkan sebagai seorang
yang altruistic, jentel, baik hati, simpati, dan hangat (Costa & Mc Crae, 1992). Sikap
mudah menyetujui terkait dengan sikap peduli pada orang lain (altruism), mengayomi,
suka memberikan support pada orang lain, yang merupakan kebalikannya dari sikap
kompetitif, bermusuhan, suka menunjukkan perbedaan, dan berpusat pada diri sendiri,
pendendam serta iri hati (Howard & Howard, 1992).
Ketelitian dapat mengukur perilaku yang mengarahkan pada tuj an dan
u
mengontrol berbagai rangsangan dari luar. Ketelitian terkait dengan motivasi belajar
dan keinginan untuk maju. Orang yang konsentrasi penuh pada satu tujuan akan
bekerja keras untuk meraihnya, sementara orang yang fleksibel mudah tergoda dan
terbujuk untuk pindah dari sa tugas ke tugas lainnya. Orang yang lebih teliti
tu
biasanya lebih kompeten, memenuhi kewajiban, patuh pada peraturan, bertanggung
jawab dan pemikir (Costa & Mc Crae, 1992). Teori kebutuhan dianggap dapat
memberikan bantuan untuk lebih mengerti kepribadian seseorang. Teori tingkat
kebutuhan dari Maslow, menggambarkan bahwa manusia selalu diuntut oleh
t
keinginan untuk memenuhi (kebutuhan biologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan
untuk diterima dan dihormati orang lain, kebutuhan untuk mempunyai citra yang baik,
serta utuk menunjukkan prestasi yang baik) dimana struktur hierarkinya bisa berbeda
pada setiap orang, tergantung kebutuhan mana yang diprioritaskan. Walaupun teori
Maslow ini paling banyak dikutip, tetapi juga cukup banyak dikritik yakni yang
mempertanyakan kebenaran teori ini yang tidak berdasarkan hasil penelitian, dan ada
yang mengkritik karena tingkat kebutuhan manusia sebenarnya tidak dapat dipisah-
pisahkan secara berjenjang.
Teori kebutuhan dari Mc Clelland berpusat pada satu macam kebutuhan, yaitu
yang disebut dengan motif berprestasi. Seseorang dianggap mempunyai motivasi
untuk berprestasi jika ia mempunyai keinginan untuk melakukan suatu karya yang
berprestasi lebih baik dari prestasi orang lain. Sebenarnya menurut Mc Clelland
(1987) ada tiga kebutuhan manusia yaitu kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan
untuk berafiliasi, dan kebutuhan terhadap kekuasaan.
Berdasarkan teori X dan Y dari Mc Gregor, orang-orang yang tergolong ke
dalam teori X, hakekatnya tidak menyukai bekerja, berke
mampuan kecil untuk
mengatasi masalah-masalah organisasi, hanya membutuhkan motivasi fisiologis,
sehingga orang semacam itu perlu diawasi secara ketat. Sebaliknya menurut teori Y,
manusia itu suka bekerja, dapat mengontrol dirinya sendiri, mempunyai kemampuan
berkreativitas, motivasinya bukan hanya fisiologis tetapi lebih tinggi, sehingga
kelompok Y tidak perlu diawasi secara ketat (Kreitner and Kinichi, 1998, Thoha,
2001).
Dari gambaran di atas nampak ada
nya perbedaan diantara individu, yang
menurut Thoha (2001) dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Manusia berbeda perilakunya karena kemampua
nnya tidak sama. Perbedaan
kemampuan ada yang beranggapan karena disebabkan sejak lahir manusia
ditakdirkan berbeda kemampuannya. Ada pula yang beranggapan bukan sejak
lahir, tetapi karena perbedaan menyerap informasi dari suatu gejala, dan ada pula
yang menggabungkan keduanya. Dengan memahami perbedaan kemampuan,
maka kita dapat memprediksi hasil kerja seseorang yang bekerja sama di dalam
suatu organisasi atau kelompok.
2. Manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda. Manusia berperilaku karena
didorong oleh kebutuhan. Dengan kebutuhan maka beberapa pernyataan di dalam
diri seseorang (
internal state) menyebabkan seseorang itu berb
uat untuk
mencapainya sebagai suatu objek atau hasil. Pemahaman kebutuhan yang berbeda
dapat dipergunakan untuk memprediksi dan menjelaskan pe
rilaku yang
berorientasi pada tujuan di da
lam kerja sama suatu organisasi se
rta dapat
memahami mengapa suatu hasil dianggap penting bagi seseorang (berkaitan
dengan motivasi).
3. Orang berpikir tentang masa depan, dan membuat pilihan tentang bagaimana
bertindak. Berdasarkan teori expectancy, seseorang memilih berperilaku
sedemikian rupa, karena ia yakin dapat mengarahkan untuk mendapatkan sesuatu
hasil tertentu.
4. Seseorang memahami lingkungan dalam hubungannya dengan pengalaman masa
lalu dan kebutuhan dia. Memahami lingkungan adalah suatu proses yang aktif,
dimana seseorang mencoba membuat lingkungannya berarti baginya. Proses yang
aktif ini melibatkan seseorang mengakui secara selektif aspek-aspek yang berbeda
dari lingkungan, menilai apa yang dilihatnya dalam hubungan dengan masa lalu,
dan mengevaluasi apa yang dial mi itu dalam kaitannya dengan kebutuhan-
a
kebutuhan dan nilai-nilainya. Dengan kebutuhan dan pengalaman yang berbeda,
maka persepsinya terhadap lingkungan akan berbeda pula. Dalam organisasi yang
sama seringkali mempunyai perbedaan di dalam pengharapan mengenai suatu
perilaku yang membuahkan suatu penghargaan, misalnya kenaikan gaji/upah dan
cepatnya promosi atau pendapatan yang lebih bag suatu anggota koperasi
i
pertanian.
5. Seseorang itu mempunyai reaksi senang atau tidak senang (affektif). Perasaan
senang atau tidak senang akan menjadikan seseorang berbuat yang berbeda dengan
orang lain dalam menanggapi sesuatu hal. Seseorang bisa puas mendapatkan
pendapatan tertentu sementara yang lain tidak. Kepuasan dan ketidakpuasan ini
ditimbulkan oleh adanya perbedaan antara sesuatu yang diterima dengan yang
diharapkan. Diantara individu bisa terjadi salah persepsi terhadap suatu hasil yang
dicapai oleh orang lain sebagai akibat dari kurang tepatnya proses perbandingan.
6. Banyak faktor yang menentukan sikap dan perilaku seseorang. Sikap dan perilaku
seseorang dapat dipengaruhi oleh kemampuan, kebutuhan, pengharapan, dan
lingkungannya. Dengan banyaknya faktor yang mempengaruhi perilaku manusia,
maka seringkali suatu organisasi mengahadapi kesulitan di dalam menciptakan
suatu keadaan yang menuju ke arah tercapainya efektivitas pelaksanaan kerja.
III
PEMBAHASAN
3.1. Sikap Mental (Kepribadian) Peternak dalam Manajemen Usaha Sapi Perah
Para peternak sapi perah yang tinggal di pedesaan dan memiliki keterbatasan
dalam tingkat pendidikan, permodalan, komunikasi dan waktu kerja yang panjang
(terutama mencari rumput), menjadikan mereka kurang inovatif, mudah menyerah,
aspirasinya terbatas, berwawasan sempit dan kurang berempati, seperti yang
dikemukakan Rogers (1969). Sikap mental tersebut tentunya menghambat pengem-
bangan usaha peternakan rakyat yang secara ekonomi dinilai t dak efisien (skala
i
pemilikan kebanyakan skala kecil). Hal ini nampak dari kurangnya tingkat adopsi
inovasi seperti pemanfaatan limbah ternak untuk bio gas, pengawetan hijauan (silage
dan hay), belum sepenuhnya memperhatikan kebersihan saat pemerahan serta tidak
adanya pencapaian target populasi (pemilikan ternak) maupun tingkat produksi susu
yang dapat dicapai per ekor/harinya. Kebanyakan skala pemilikan ternak berada pada
kisaran 2-4 ekor/peternak dengan break event point berada pada pemilikan 4 ekor sapi
produktif/peternak, serta skala usaha yang layak di atas 6 ekor sapi produktif/peternak.
Kurangnya sikap kemandirian pe
ternak nampak dari ketergantungannya
terhadap koperasi dan bantuan pihak luar untuk penyediaan bibit sapi, milk can,
pemanfaatan bio gas, yang sebenarnya memberi manfaat yang cukup besar. Alasan
yang sering dikemukakan adalah kurangnya permodalan sehingga mengharapkan ada
bantuan gratis terhadap mereka. Hal ini dapat dilihat di KPBS dan KPSBU dalam
pemanfaatan bio gas, KUD Cipta Sari dalam penyediaan milk can. Hal ini menurut
Koentjaraningrat (1993) merupakan kelemahan mentalitas petani-peternak yang dapat
menghambat tujuan pembangunan (termasuk pembangunan peternakan) dengan ciri-
ciri : (1) hanya berorientasi pada amal dan karya; (2) mempunyai persepsi waktu yang
terbatas/ berorientasi pada masa kini; (3) terlalu menggantungkan diri pada nasib; (4)
sikap mentalitas yang meremehkan mutu; (5) sikap mentalitas yang suka menerabas;
(6) kurang berdisiplin; dan (7) sikap mentalitas yang suka mengabaikan tanggung
jawab. Hal inipun sejalan dengan teori kepribadian The Big Five, yakni para peternak
umumnya bersifat sensitif dan hati-hati terhadap pengaruh dan inovasi dari luar karena
skala usahanya kecil sehingga rentan terhadap kegagalan, sedikit enerjik, perhatian
terhadap peternak lain sebatas penyampaian informasi, kurang teliti dalam manajemen
usahanya sehingga kurang terorganisisir.
3.2. Pembentukan Kepribadian Mandiri pada Peternak Sapi Perah
Kepribadian mandiri peternak sapi perah dapat dibentuk melalui pelaksanaan
kepemimpinan pengurus, manajer, penyuluh peternakan, ketua kelompok melalui
pelayanan, pengarahan, dan pendampingan. Selain itu, petugas teknis lain seperti
petugas tester dapat memberi sanksi atas tindakan pemalsuan susu atau kualitas susu
yang tidak memenuhi persyaratan. Kepemimpinan berperan dalam me
ngambil
prakarsa, mempengaruhi bawahan (karyawan dan anggota koperas),
i men-
transformasikan teknologi sapi perah dan mentalitas peternak, mengorganisasikan
keryawan dan anggota agar tercpai
a tujuan koperasi, memperjelas arahan,
mempertanyakan hal-hal yang tidak sesuai dengan p
rosedur kerja, memotivasi
karyawan dan anggota koperasi, menyimpulkan aspirasi karyawan dan anggota,
mengambil tindakan serta mengimplementasikan keputusan dalam tindakan nyata ke
arah tujuan yang telah ditetapkan.
Pemberdayaan terhadap peternak merupakan perwujudan dari pengembangan
kapasitas (capacity building) peternak melalui pengembangan kelembagaan mulai dari
tingkat pusat sampai tingkat pedesaan seiring dengan pembangunan sosial ekonomi,
sarana-prasarana, serta pengembangan system Tiga-P, yaitu : (1) Pendampingan yang
dapat menggerakkan partisipasi total dari masyarakat (peternak); (2) Penyuluhan yang
dapat merespon dan memantau perubahan yang terjadi di masyarakat (peternak); dan
(3) Pelayanan yang berfungsi s
ebagai unsur pengendali ketepatan distribusi aset
sumber daya fisik dan nonfisik yang diperlukan masyarakat (peternak) (Hubeis, 2003).
Berdsarkan Lima Dimensi Kepribadian (The Big Five of Personality Dimension),
maka : (1) Pemberdaya peternak baik pengurus maupun penyuluh perternakan perlu
mendorong peternak agar memiliki rasa percaya diri (percaya pada kemampuan diri
sendiri); (2) Peternak juga perlu memiliki kepribadian yang terbuka (ekstrovert)
sehingga bersifat enerjik dan mampu menyampaikan aspirasinya sebagai pemilik
koperasi; (3) sikapnya terhadap pengalaman dalam beternak dan berorganisas
i
koperasi, baik yang sukses (me
nyenangkan) maupun yang gagal (tidak
menyenangkan) perlu disikapi s
ecara proporsional dan mengaitkannya dengan
serangkaian proses/ kegiatan yang dialami, sehingga hal apa yang dapat menimbulkan
kesuksesan dan kegagalan dapat dipahami peternak, hal ini perlu pendampingan dari
penyuluh ataupun ketua kelompok. Ketertarikan peternak terhadap hal-hal baru
(inovasi) akan meningkatkan pengetahuan dan wawasan peternak sekaligu
s
memberikan alternatif pemecahan masalah produksi, kualitas susu maupun tata
laksana pemeliharaan ternak; dan (4) Sikap peternak pada pihak lain yang
berkepribadian baik adalah yang ramah, suka bekerja sama, s ka memikirkan
u
kepentingan orang lain, tenggang rasa dan bersifat toleransi. Kerjasama peternak baik
dalam kelompok maupun koperasi sapi perah yang bersifat mendukung pencapaian
tujuan organisasi koperasi perlu terus dipelihara; dan (5) Berdasarkan aspek ketelitian,
peternak yang teliti dalam pelaksanaan Sapta Usaha Ternak, yakni dalam pembibitan,
pemberian pakan sesuai kebutuhan ternak, tata laksana pemeliharaan dan kandang
diperhatikan, melakukan pencegahan dan pengendalian p
enyakit, melakukan
pencatatan (recording) dalam aspek reproduksi, menjaga kebersihan pada saat pra
pemerahan, saat pemerahan dan pasca pemerahan, dan melakukan pemasaran ke
koperasi, jelas mendukung keberhasilan usaha ternaknya.
Berdasarkan Teori X dan Y dar Mc Gregor, kebanyakan para peternak termasuk
Kelompok X, yang kurang memiliki kemampuan untuk mengatasi segala persoalan,
keterbatan lahan, modal, dan kemampuan teknis, motivasi diri hanya sebatas motivasi
fisiologis, sehingga perlu diawasi dengan ketat dalam pencapaian produksi susu yang
berkualitas. Dengan demikian maka para pemberdaya peternak harus mampu
mengubah motivasi peternak ke arah Teori Y, yaitu menjadi peternak yang senantiasa
bekerja keras, mampu mengatasi berbagai persoalan (keterbatasan yang ada), dapat
mengontrol diri, memiliki kreativitas serta memiliki motivasi yang tidak sebatas
kebutuhan fisiologis, tetapi sampai pada keinginan untuk dihargai orang lain dan
aktualisasi diri. Ada peternak di Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU)
Lembang yang mampu menerapkan seleksi dan pembibitan serta membuat Analisis
Keuangan secara sederhana sehingga dapat diketahui sapi mana yang produktivitasnya
tinggi dan yang rendah, serta mampu mengetahui pendapatan riil yang didapat dari
usahanya, sehingga memiliki rasa percaya diri yang tinggi sebagai peternak sapi perah.
Hal ini disebabkan karena pet rnakannya
e sering dijadikan sebagai percontohan,
dikunjugi petugas dari Dinas Peternakan Bandung dan Jawa Barat, pihak Universitas,
bahkan studi banding dari Luar Negeri.
3.3. Peranan Kepribadian Mandiri dalam Menunjang Keberhasilan Usaha
Ternak
Pemberdayaan kepada peternak perlu mendasarkan pada bagaimana peternak
anggota koperasi dapat berinovasi, bekerja sama, berintegrasi, dan berprestasi di
dalam wadah kelompok, koperasi, sehingga pada akhirnya memiliki kompetensi baik
secara teknis, ekonomis maupun sosial yang pada gilirannya apat
d terus
mengembangkan usahanya (mencapai keberhasilan usaha ternakny
a). Hal ini
sependapat dengan Roger (1983), yang menekankan pada sifat keinovatifan individu
maupun kelompok (organisasi) d
alam upaya mengadaptasikan dir terhadap
i
perubahan, sehingga seseorang dapat menjadi “agen perubah” bagi orang lain maupun
dirinya sendiri. Keberlanjutan usaha peternak dapat dicapai jika peternak mampu
memenuhi kebutuhan hidupnya, memiliki pengendalian diri terutama dalam aspek
konsumsi, serta memiliki rasa percaya diri. Selain itu peternak memiliki kemampuan
untuk bertahan dalam menghadapi stres dan shock (resiko usaha), mampu menemukan
dan memanfaatkan kesempatan usaha yang bersifat reaktif dan proaktif, serta mampu
merespon berbagai perubahan atau dapat beradaptasi secara dinamis, sesuai apa yang
dikemukan Chambers dan Conway (1992).
Memasuksi era globalisasi, berbagai kemudahan seperti subsidi, proteksi dan
berbagai bentuk kemudahan lainnya makin dikurangi dan pada akhirnya ditiadakan.
Untuk itu, kemampuan peternak dalam mengakomodasikan sifat-sifat baik manusia
yang ditampilkan dalam sikap dan perilakunya perlu dilaksanakan dengan tepat
berdasarkan situasi dan kondisi yang dihadapinya, yaitu dala rangka menuju
m
kemandirian peternak. Hanya petani-peternak yang memiliki kemampuan untuk
meraih berbagai peluang dan kesempatan berusaha secara mandirilah yang mampu
bersaing dan bertahan dalam mengusahakan pertaniannya secara menguntungkan.
Dalam hal ini, karakteristik manusia yang berkualitas mandiri adalah individu
yang memiliki sifat rajin, senang bekerja, sanggup bekerja keras, tekun, gigih, disiplin,
berani merebut kesempatan, jujur, mampu bersaing dan bekerja sama, dapat dipercaya
dan mempercayai orang lain, mempunyai cita-cita dan tahu apa yang harus diperbuat
untuk mewujudkannya, terbuka pada kritik dan saran-saran, serta tidak mudah putus
asa. Berkaitan dengan adaptasinya terhadap era globalisasi yang penuh kompetitif,
para peternak perlu melakukan perubahan perilaku dari yang bersifat instrumental,
egosentris, jalan pintas, ekspansif, dan tidak peka terhadap hal-hal yang berkaitan
dengan kepentingannya, ke perilaku peternak yang “tangguh” dengan menampilkan
karakteristik perilaku yang diwarnai etos kerja tinggi, prestatif, peka terh


Use: 0.3814